
Buat separuh
Disela-sela luka ku itu,
ada indah yang mengisi,
yang meniupnya, membalutnya
yang mengusapnya , menciumnya
yang ada bersamanya saat ia mengalir
yang menyembuhkan dari akar umbinya
walau puncanya bukan darinya.
Yang berbisik merdu,
yang menggenggam erat
telapak tanganku
saat hidup kembali ke takat redup.
Landasan hidup yang
dulunya hanya terus menerus
di tatang hebat ribut badai
kini ada perhentiannya
yang terisi dengan rahmat-Nya
Aku masih lagi teguh melebar sayap.
Terbangnya itu ,
terkadang tinggi ,terkadang rendah
namun kan ku tetap tunduk
di saat berada tinggi beratapkan langit biru
Pada yang memberi teduh,
terima kasih aku ucapkan,
biarpun ku jauh, kau takkan sendiri
menanggung pilu,
Cinta dan rindu
selalu ku titipkan buatmu
pada yang satu.
Disaat kau luluh dan berasa buntu
jalan pulangnya masih sama
seperti dulu,
ingatlah selalu
bahwa separuh aku itu
adanya bersamamu
ku kan terus menunggu
dirimu kembali dalam dakapanku
jangan lupakan aku.
Benang
Ah , benang ku putus lagi
tiap perkara yang hadir itu ,
disusunnya rapi.
Dari rahim mana kau dikandung
sehinggalah ke kain putih
yang kan disarung.
Begitu jugak dengan segulung benang.
Yang ada bukan hanya satu
namun beribu , terkadang rungsing
pulanglah dengan hati tercanggung pilu
Namun,
tidak lama berkeluh kesah
tangan ku terhenti , dan ajaibnya
dalam genggaman ku terkandang segulung benang.
Pulanglah hati dengan rasa indah tak terkira
Segalanya lengkap,
benang ku tusuk ke lubang di jarum,
dan aku mula menenun.
Selesai satu , ku sambung satu
sehingga tak terkira sarung yang dikait.
Siapa sangka ,
dengan hanya benang dan jarum
terhasil berbilang sarung yang mulanya
hanya dari selembar kain.
Umpama bunga yang layu setelah mekar .
lumrah alam , tepat waktunya
kembali lah ia ke asalnya.
Pada hari itu ,
kain yang ditenun tak secantik dulu,
kain yang ditenun tidak sekemas dulu,
kain yang ditenun tidak sekuat dulu.
Benangku tidak lagi sehalus dulu,
tidak lagi serasi bersama jarumku.
Aku paksakan lagi,
lelah ku biar tepi,
ku cuba leraikan kusutnya benang ini
aku cuba , cuba dan cuba lagi.
Dari terbit nya matahari di ufuk
sehingga tenggelam ditelan laut.
Aku menangis dan menangis,
biarpun putus ku ikat kembali
merayu dan merayu
biarlah sekali saja lagi ,
sekali saja lagi , kita tenun selempar kain ini
Ah, benang ku putus lagi.
Kereta api
Di perhentian kereta api,
tiada lagi urusan
yang belum selesai,
semuanya telah ku pulangkan,
yang tinggal hanya rasa
pahit kelat yang berparut.
Gerabak pertama telah berlalu pergi,
“tik tik tik”
kedengaran jam tangan ku
berdetik kuat umpama yang tinggal
hanyalah aku sendiri.
Ya, aku sendiri.
Sendiri menyelit diantara ribuan jasad.
Saat itu, yang menemani aku,
hanyalah gema memori,
aku , kamu, kita sedang bergelak tawa
di dalam kereta.
Entah mengapa hanya memori itu
yang bergema di ruangan minda.
“kenapa kamu nak lari dari sini”
kamu bertanya,
aku sekadar melempar senyum hiba,
tidak menjawab.
Hatiku meruntun,
gerabak yang kan membawa aku pergi
jauh , jauh dari capaian kamu
kini berada di hadapanku.
Kaki ku bergetar, tanganku berpeluh
saat aku mula mengorak langkah.
“nanti kau tahan la aku”
akhir kata ku sebelum aku keluar
dari kereta kamu.
Tiba di ambang pintu,
Aku menoleh , buat kali terakhir
tempat yang menjadi saksi
tumpah darah, jatuh bangun
dan gelak tawa.
Aku masih menoleh,
menunggu,masih menaruh
sekecil-kecil harapan
yang kamu akan hadir, membawa aku pulang.
Namun kau tak kunjung tiba
lalu aku pun melangkah masuk
penuh hiba.
Keretapi ini bergerak laju,
aku takut.
sekali lagi
Sekali lagi,
kau meninggalkan aku sekali lagi
aku yang mula melihat
dunia ini hanya sekadar hitam dan putih,
seri di wajah ku yang semakin susut,
suara ku juga tidak lagi ku dendangkan
aku disini, sendiri menyepi
dalam nikmatnya sunyi
Disaksikan ruang ini ,
aku membunuh diri dalam sepi .
Dan , “aku” tidak lagi ada disini untuk menyinari.
Namun kau hadir , sekali lagi
di saat aku, sudah hampir mati
tika itu masa seakan terjeda,
kita berada dalam satu ruang masa berbeza ,
yang aku harap tidak akan bergerak .
Resah gelisah ku hilang,
bibir ku mampu mengukir senyum nipis lagi
kali ini ia ikhlas , aku janji.
Kau memberi ku satu alasan lagi
untuk menghela dan menghembus nafas lagi
Aku dapat bersandar, sekali lagi.
Detik masa
sudah tidak mampu menunggu lagi,
akhir cerita yang meruntun jiwa tiba lagi ,
dia hadir tidak lama,
ego yang menghasut diri,
menahan ku dari luah kan rasa ikhlas dari hati,
aku ingin pegang kau erat ,
semampunya dalam dakapan.
Rencana tuhan,
sekali lagi, genggaman ku
yang ku kira cukup kuat ,
akhirnya terpaksa aku lepas
dengan hela yang berat,
yang hujan saat itu bukan lagi langit
Dan kita bertatapan mata sekali lagi
tanda ” kita berjumpa lagi nanti “
dan di ketika itu realiti kembali menerpa diri
Dan sekali lagi,
kau meninggalkanku sekali lagi
Seribu Tahun Lagi
Jika bertanya kepada raga,
tiada kejujuran yang kan kau dapati
hanya putar belit dan sandiwara
yang akan mengisi hening
dan kan meleburkan dua hati.
Namun,
jika kau hanya,
tunggu seketika dan
tinggal untuk sedikit lama lagi
kau kan dapati
jari jemari ku,
kan menyelami jari jemari mu
dan
hangat tubuhku,
kan rebah di bahu mu
Kejujuran itu kan mengalir
memenuhi ruang hening
dengan rindu , benci , kecewa dan harapan.
“jangan pergi” ,
kata si batin
terpahat jauh di lubuk hati
namun terlalu sakit untuk dizahirkan bibir.
Jadi izinkan aku amati rasa ini
sebelum kita beranjak pergi,
meninggalkan “kita” disini dan
tunduk pada realiti.
Pada akhirnya
jika kau bertanya pada hati,
jawabnya ,
kasih itu kan sentiasa berbisik,
kan ku berpaut pada hasrat ini
untuk menyayangi mu seikhlas hati
biarpun untuk seribu tahun lagi.
Sebuah cinta,
yang penuh noda dan cela.
Sebuah kisah ,
yang akan ku bawa hingga mati.
Bayang
Buat ke juta kalinya,
aku di sapa bayang-bayang mu
yang niatnya mengingatkan
kau tidak lagi disini,
sangkaan ku hanya sekadar menembusi ,
namun mengkhianati
dengan menoreh lagi.
Luka yang baru mula membekas,
kini mengalir lagi,
sebagai satu bentuk rindu,
yang tak ku daya berpaling.
