Skip to content
Facebook
Twitter
Email
LinkedIn

Buat separuh

Disela-sela luka ku itu,

ada indah yang mengisi,

yang meniupnya, membalutnya

yang mengusapnya , menciumnya

yang ada bersamanya saat ia mengalir

yang menyembuhkan dari akar umbinya

walau puncanya bukan darinya.

Yang berbisik merdu,

yang menggenggam erat

telapak tanganku

saat hidup kembali ke takat redup.

Landasan hidup yang

dulunya hanya terus menerus

di tatang hebat ribut badai

kini ada perhentiannya

yang terisi dengan rahmat-Nya

Aku masih lagi teguh melebar sayap.

Terbangnya itu ,

terkadang tinggi ,terkadang rendah

namun kan ku tetap tunduk

di saat berada tinggi beratapkan langit biru

Pada yang memberi teduh,

terima kasih aku ucapkan,

biarpun ku jauh, kau takkan sendiri

menanggung pilu,

Cinta dan rindu

selalu ku titipkan buatmu

pada yang satu.

Disaat kau luluh dan berasa buntu

jalan pulangnya masih sama

seperti dulu,

ingatlah selalu

bahwa separuh aku itu

adanya bersamamu

ku kan terus menunggu

dirimu kembali dalam dakapanku

jangan lupakan aku.

Benang

 Ah , benang ku putus lagi

tiap perkara yang hadir itu ,

disusunnya rapi.

Dari rahim mana kau dikandung

sehinggalah ke kain putih

yang kan disarung.

Begitu jugak dengan segulung benang.

Yang ada bukan hanya satu

namun beribu , terkadang rungsing

pulanglah dengan hati tercanggung pilu

Namun,

tidak lama berkeluh kesah

tangan ku terhenti , dan ajaibnya

dalam genggaman ku terkandang segulung benang.

Pulanglah hati dengan rasa indah tak terkira

Segalanya lengkap,

benang ku tusuk ke lubang di jarum,

dan aku mula menenun.

Selesai satu , ku sambung satu

sehingga tak terkira sarung yang dikait.

Siapa sangka ,

dengan hanya benang dan jarum

terhasil berbilang sarung yang mulanya

hanya dari selembar kain.

Umpama bunga yang layu setelah mekar .

lumrah alam , tepat waktunya

kembali lah ia ke asalnya.

Pada hari itu ,

kain yang ditenun tak secantik dulu,

kain yang ditenun tidak sekemas dulu,

kain yang ditenun tidak sekuat dulu.

Benangku tidak lagi sehalus dulu,

tidak lagi serasi bersama jarumku.

Aku paksakan lagi,

lelah ku biar tepi,

ku cuba leraikan kusutnya benang ini

aku cuba , cuba dan cuba lagi.

Dari terbit nya matahari di ufuk

sehingga tenggelam ditelan laut.

Aku menangis dan menangis,

biarpun putus ku ikat kembali

merayu dan merayu

biarlah sekali saja lagi ,

sekali saja lagi , kita tenun selempar kain ini

Ah, benang ku putus lagi.

Kereta api

 Di perhentian kereta api,

tiada lagi urusan

yang belum selesai,

semuanya telah ku pulangkan,

yang tinggal hanya rasa

pahit kelat yang berparut.

Gerabak pertama telah berlalu pergi,

“tik tik tik”

kedengaran jam tangan ku

berdetik kuat umpama yang tinggal

hanyalah aku sendiri.

Ya, aku sendiri.

Sendiri menyelit diantara ribuan jasad.

Saat itu, yang menemani aku,

hanyalah gema memori,

aku , kamu, kita sedang bergelak tawa

di dalam kereta.

Entah mengapa hanya memori itu

yang bergema di ruangan minda.

“kenapa kamu nak lari dari sini”

kamu bertanya,

aku sekadar melempar senyum hiba,

tidak menjawab.

Hatiku meruntun,

gerabak yang kan membawa aku pergi

jauh , jauh dari capaian kamu

kini berada di hadapanku.

Kaki ku bergetar, tanganku berpeluh

saat aku mula mengorak langkah.

“nanti kau tahan la aku”

akhir kata ku sebelum aku keluar

dari kereta kamu.

Tiba di ambang pintu,

Aku menoleh , buat kali terakhir

tempat yang menjadi saksi

tumpah darah, jatuh bangun

dan gelak tawa.

Aku masih menoleh,

menunggu,masih menaruh

sekecil-kecil harapan

yang kamu akan hadir, membawa aku pulang.

Namun kau tak kunjung tiba

lalu aku pun melangkah masuk

penuh hiba.

Keretapi ini bergerak laju,

aku takut.

sekali lagi

Sekali lagi,

kau meninggalkan aku sekali lagi

aku yang mula melihat

dunia ini hanya sekadar hitam dan putih,

seri di wajah ku yang semakin susut,

suara ku juga tidak lagi ku dendangkan

aku disini, sendiri menyepi

dalam nikmatnya sunyi

Disaksikan ruang ini ,

aku membunuh diri dalam sepi .

Dan , “aku” tidak lagi ada disini untuk menyinari.

Namun kau hadir , sekali lagi

di saat aku, sudah hampir mati

tika itu masa seakan terjeda,

kita berada dalam satu ruang masa berbeza ,

yang aku harap tidak akan bergerak .

Resah gelisah ku hilang,

bibir ku mampu mengukir senyum nipis lagi

kali ini ia ikhlas , aku janji.

Kau memberi ku satu alasan lagi

untuk menghela dan menghembus nafas lagi

Aku dapat bersandar, sekali lagi.

Detik masa

sudah tidak mampu menunggu lagi,

akhir cerita yang meruntun jiwa tiba lagi ,

dia hadir tidak lama,

ego yang menghasut diri,

menahan ku dari luah kan rasa ikhlas dari hati,

aku ingin pegang kau erat ,

semampunya dalam dakapan.

Rencana tuhan,

sekali lagi, genggaman ku

yang ku kira cukup kuat ,

akhirnya terpaksa aku lepas

dengan hela yang berat,

yang hujan saat itu bukan lagi langit

Dan kita bertatapan mata sekali lagi

tanda ” kita berjumpa lagi nanti “

dan di ketika itu realiti kembali menerpa diri

Dan sekali lagi,

kau meninggalkanku sekali lagi

Seribu Tahun Lagi

 Jika bertanya kepada raga,

tiada kejujuran yang kan kau dapati

hanya putar belit dan sandiwara

yang akan mengisi hening

dan kan meleburkan dua hati.

Namun,

jika kau hanya,

tunggu seketika dan

tinggal untuk sedikit lama lagi

kau kan dapati

jari jemari ku,

kan menyelami jari jemari mu

dan

hangat tubuhku,

kan rebah di bahu mu

Kejujuran itu kan mengalir

memenuhi ruang hening

dengan rindu , benci , kecewa dan harapan.

“jangan pergi” ,

kata si batin

terpahat jauh di lubuk hati

namun terlalu sakit untuk dizahirkan bibir.

Jadi izinkan aku amati rasa ini

sebelum kita beranjak pergi,

meninggalkan “kita” disini dan

tunduk pada realiti.

Pada akhirnya

jika kau bertanya pada hati,

jawabnya ,

kasih itu kan sentiasa berbisik,

kan ku berpaut pada hasrat ini

untuk menyayangi mu seikhlas hati

biarpun untuk seribu tahun lagi.

Sebuah cinta,

yang penuh noda dan cela.

Sebuah kisah ,

yang akan ku bawa hingga mati.

Bayang

 Buat ke juta kalinya,

aku di sapa bayang-bayang mu

yang niatnya mengingatkan

kau tidak lagi disini,

sangkaan ku hanya sekadar menembusi ,

namun mengkhianati

dengan menoreh lagi.

Luka yang baru mula membekas,

kini mengalir lagi,

sebagai satu bentuk rindu,

yang tak ku daya berpaling.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.